Kemaren aku ketemu teman lama. Temen SD yang sering gak naik kelas dan akhirnya Dropout. Temen maen, temen jalan sekaligus mantan tetangga yang ngajarin aku mencoba kenakalan masa-masa ABG dulu. Kira-kira sudah lima tahun aku gak pernah lagi akrab sama dia. Apalagi sejak rumahnya pindah entahlah dimana aku tak tahu.
”Kapan mau nikah…..?”
Selintas tercium bau alkohol saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
”Nikah? Kuliah aja belum selesai. Kamu sendiri?”
Dia Cuma tersenyum saat pertanyaan itu kubalikkan padanya.
”Gak terasa ya sudah 23 tahun, kapan aku bisa berubah”
Kata-katanya membuat aku menerawang memandang lagit yang tampak cerah malam itu.
”Aku ingin bisa kayak dulu, saat masih sering bareng sama kamu. Tapi lihat aku sekarang…..”
Memang sekarang dia berubah. Lebih parah tepatnya. Raut mukanya kelihatan lebih tua. Tubuhnya yang kurus, garis wajah yang tirus dan kulitnya yang tambah coklat semakin mempertegas keadaannya.
”Ini aku buat dua minggu yang lalu”
Dia menunjukkan sebuah tato bergambar bintang dengan kobaran api di sekelilingnya di pergelangan tangan kanannya. Aku cuma bisa menghela nafas….. Sudah berapa banyak tato yang ada di tubuhnya. Aku jadi ingat….. dulu saat ini berusaha mati-matian untuk menutupi tato di kakinya karena gak ingin ceweknya tahu.
”Waktu itu aku lagi gak sadar dan aku ingin punya gambar bintang disini”
Aku melihat penyesalan di matanya saat dia menunjukkan tato itu.
”Aku ingin kayak dulu lagi….. saat masih temenan sama kamu. Aku ingin ngobrol banyak sama kamu. Sekarang hidupku rusak. Aku ingin ninggalin semua ini. Aku ingin berubah…..”
Fren…..aku jadi gak tega lihat keadaanmu saat ini. Aku juga ingin kamu berubah. Karena bagaimanapun….. aku masih tetap temenmu.
